Superman dan Kenangan tentang Kutu Busuk

Saya pertama kali masuk bioskop saat berumur lima tahun. Itu terjadi 34 tahun lalu. Sudah lama, tapi saya masih mengingat beberapa detilnya. Saya yakin itu adalah kali pertama, karena begitu proyektor menyala dan film diputar, saya berteriak kepada ibu: “Wah, tivinya besar sekali.” Ibu tertawa, dan kemudian menceritakan kepada ayah saya yang tidak ikut, komentar anaknya yang kampungan itu.

Hal kedua yang saya ingat adalah kesibukan ibu melapisi kursi anyaman rotan di bioskop itu dengan kertas koran. “Jangan duduk dulu, banyak kutu busuknya. Ibu tidak mau mereka pindah ke rumah kita,” kata dia. Setelah menonton, ketika sampai di rumah pun dia menyuruh kami membuka semua baju dan mandi. “Jangan masuk kamar, nanti kutu busuk itu pindah ke tempat tidur.”

Saat itu, di kota kelahiran saya, Bangil, Jawa Timur, itu adalah bioskop satu-satunya. Namanya Indonesia Theater, pemiliknya seorang India bernama Abdullah. Di belakang dia, orang dengan tidak sopan memanggilnya Dolah Buthak, karena dia memang berambut tipis. Mungkin karena waktu kecil sering meledeknya dengan sebutan itu, kini rambut saya sudah menipis. Ayah saya yang keturunan India memanggilnya Chacha Dolah, Paman Dolah.

Orangnya persis Alfred Hitchcock–setidaknya dalam ingatan saya begitu. Dia punya kursi besar seperti yang dipunya para bos. Tapi, saya tak yakin kursi itu dilapisi kulit asli. Kantor menjadi satu dengan loket karcis. Pak Abdullah duduk di belakang penjual tiket hingga siapa pun yang membeli tiket dapat melihatnya dan dia bisa melihat siapa pun yang membeli tiket. Saat melihat ibu saya membeli tiket, dia meminta agar mampir membawa saya ke kantornya itu setelah pemutaran film. Saya tak tahu apakah dia memberi diskon, tapi semestinya ya.

Tentang kutu busuk atau tinggi dalam bahasa Jawa itu sudah terkenal. Suatu hari seorang penonton, saking kesalnya, mendatangi Pak Abdullah untuk komplain soal kutu busuk itu. “Tuan, jangan salahkan saya untuk gangguan itu,” jawab Pak Abdullah. “Lalu, kami harus menyalahkan siapa? Anda kan yang punya bioskop ini,” ujar penonton itu. Dengan enteng, dia menjawab: “Saya lah yang membangun bioskop ini. Dan waktu membangunnya, saya yakin, di kursi itu tidak ada kutu busuknya. Penonton yang membawa mereka ke sini.”

Saya tak tahu apa judul film itu. Anak umur lima tahun tak mengerti soal judul. Tapi jelas, film itu tentang Superman. Belakangan, saya tahu film itu berjudul Superman: The Movie, dibuat pada 1978 dibintangi oleh Marlon Brando dan Christopher Reeve. Cerita dan skenarionya ditulis oleh Mario Puzo. Brando dan Puzo sebelumnya pernah “bekerjasama” lewat film terkenal, The Godfather.

Baca lebih lanjut